Tips Hamil

Kamis, 27 Maret 2014

Indahnya Panorama Siluet Di Pantai Boom Tuban

Pantai Boom adalah salah satu wisata unggulan di Kota Tuban - Jawa Timur. Banyak yang berpendapat bahwa pantai ini memiliki panorama alam yang indah.


Apalagi bagi para fotografer atau mereka yang sedang belajar tentang fotografi, Pantai Boom ini laksana surga yang tiada habisnya untuk diabadikan keindahannya.




Wisata ini berlokasi di pusat kota Tuban atau sekitar 200 meter dari alun-alun. Tiket masuknya Rp 1.500 per orang. Gerbang berbentuk kapal seolah menyapa kedatangan para pengunjungya. 



Berada di pantai ini kita bisa menikmati keindahan panorama pantai  kala fajar dan senja dalam satu lokasi tanpa terhalang oleh gunung, bukit, bangunan dan sebagainya.



Bayangan hitam dari berbagai benda di sekitarnya seperti perahu, nelayan, pengunjung, pepohonan dan yang lainnya yang berpadu dengan semburat warna tembaga sang surya semakin menambah keindahan itu. Bagai sebuah lukisan raksasa yang tiada bertepi. 



Saat yang tepat untuk menikmati dan merekam keindahan kala fajar itu adalah sekitar jam 5 pagi. Usahakan datang kesana jangan di atas jam 5 karena begitu luasnya kawasan ini.



Dengan datang lebih awal, Anda bisa bersiap dan lebih nyaman untuk mendapatkan foto-foto siluet yang indah dan lebih banyak.


Berbeda halnya jika Anda terlambat datang, bisa dipastikan usaha hunting foto Anda akan terasa kurang nyaman karena berpacu dengan matahari yang semakin meninggi dan menghilangkan semburat warna tembaganya.


Lokasi pertama yang bisa dituju adalah di dekat sumber air tawar. Bentuk bangunan pelindung sumber air tawar itu bisa menjadi pemanis foto siluet anda. Begitu pula dengan perahu-perahu nelayan dengan berbagai aktifitas nelayannya di sana. 



Anda juga bisa turun ke pasir pantainya untuk mendapatkan angle pemotretan yang berbeda karena pantai ini cukup dangkal dan  memiliki ombak yang tenang.



Lokasi yang berikutnya adalah kawasan hutan cemara di bagian tengah. Kalau di  lokasi yang ini Anda bisa memadukan siluet foto aktifitas nelayan dengan perahunya dengan pepohonan cemara dan dedaunannya yang melambai-lambai.


Pengunjung yang berjalan atau bercanda ria di sekitar taman ini juga tak kalah menariknya untuk diabadikan dalam bentuk siluet.


Menuju ke lokasi yang lainnya adalah di deretan gazebo di bagian mendekati ujung pelabuhan. Bayangan hitam bangunan gazebo-gazebo dan orang-orang yang ada di sana itu juga menarik perhatian saya.



Begitu pula dengan gazebo-gazebo yang ada di bagian ujung pelabuhan mempunyai keindahan tersendiri. Terlebih dengan adanya banyak pengunjung yang memancing di sana, bisa menjadi banyak pilihan untuk mendapatkan foto-foto siluet yang indah.



Begitulah kisah ketika berburu foto-foto siluet kala fajar di pantai Boom Tuban. Bila Anda berada di sana dan kebetulan juga memotret panorama kala fajar, bisa dipastikan tak akan pernah ada foto yang sama antara foto karya pemotret yang satu dengan yang lainnya.  


Karena begitu dinamis perubahan panorama alam dan aktifitas di Pantai Boom seiring bergulirnya sang waktu.







Rabu, 26 Maret 2014

Bekas Penjara Kalisosok Ditawarkan Ke Pemkot Surabaya

Sepintas, tak ada yang menarik dengan bangunan kuno bekas Penjara Kalisosok itu. Keadaannya sangat kumuh, kotor dan terkesan terlantar. Dinding-dindingnya banyak yang retak dan berlubang. 


Kerak dan jamur tumbuh menghiasi permukaannya. Bahkan ada bagiannya yang sudah tidak beratap lagi karena gentengnya raib entah kemana.


Tetapi bagi warga Surabaya, nama bangunan itu sangat legendaris. Apalagi setelah berkembang informasi belum lama ini bahwa bangunan itu ditawarkan untuk dijual ke Pemerintah Kota Surabaya dengan nilai puluhan miliar rupiah. 



Nilai sebanyak itu mungkin sebanding dengan luasnya  lahan yang ditempati bangunan itu dengan lokasinya yang berada di pusat kota. Belum lagi dari sisi sejarahnya sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Pahlawan. 




Tentu tak mengherankan jika pihak pemerintah kemudian mengkaji dan mempertimbangkan tawaran itu.



Penjara Kalisosok yang menyimpan jejak kisah perjuangan bangsa Indonesia di masa lampau. Di penjara yang berada tak jauh dari kawasan Jembatan Merah Surabaya itulah para pejuang ditahan dan mendapatkan siksaan yang sangat berat.



Menurut Noer Satriawan dari Surabaya Historical Community ( SHC ), Kalisosok adalah 
penjara yang bisa disebut Penjara Alcatraz-nya Indonesia yang ketat pada masanya karena tidak pernah ada tahanan yg berhasil kabur dari sana, 




Usia bangunannya juga lebih tua dari penjara Nusa Kambangan. Bebrapa tokoh yang pernah dipenjara di Kalisosok itu adalah KH.Mas Mansyur dan penulis Tjamboek Berdoeri yaitu Kwee Thiam Tjing,



Bangunan ini dalam penguasaan pihak swasta. Dulu sekitar thn 90-an banyak gedung yang 
besar dan strategis yang ditukar guling oleh Pemkot Surabaya ke pihak swasta seperti 
Rumah Sakit Mardi Santoso , Gedung Internatio dan sebagainya.



Pada sisi selatan Kalisosok ini kemudian dijadikan kos kosan yang memang sudah diijinkan oleh pemiliknya , sedangkan selebihnya sekitar 90% dibiarkan terlantar dan tidak berani dirobohkan karena sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.



Tak mudah untuk bisa memasuki bekas penjara ini kecuali dari pihak Dinas Cagar Budaya. Karena itu, tak banyak yang bisa diketahui tentan bagaimana keadaan dan kondisi terbaru di dalam Kalisosok itu.
    

Yang ada adalah beberapa warga yang memarkir kendaraan truknya di depan lokasi. Ada juga yang meletakkan burung dan baju yang bergantungan dan berbagai barang yang berserakan lainnya.Pada bagian depan bangunan penjara itu  berwarna dan berarsitektur dengan gaya klasik. 



Pada bagian atasnya terdapat ruang kantor para sipir penjara Kalisosok dengan Jendela-jendela yang berukuran  lebar .Sedangkan di bagian depan juga terdapat lembaran kuningan yang bertuliskan informasi tentang status Bangunan Cagar Budaya ini .





Dalam informasi itu tertulis bahwa penjara ini dibangun sekaj jaman VOC yang digunakan hingga zaman Belnda dan Jepang.   Saat revolusi 1945 di tempat ini terjadi insiden " Kapten Huijer " dan tempat para pejuang ditahan sejak tahun 1945 - 1949.Pada tanggal 27 Oktober 1945, pasukan khusus Inggris membebaskan Huiyer dengan menjebol dinding tembok bagian belakang gedung penjara.



Selain itu juga tertulis informasi sebagai Bangunan Cagar Budaya sesuai SK Walikota Surabaya No 188.45/251/402.1.04/1996 dengan no Urut 42. Saya merasa bersyukur karena bangunan yang bersejarah ini sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.




Tetapi saya juga merasa miris dan prihatin melihat dalam kenyataannya bangunan penjara Kalisosok ini tampak kotor seperti terlantar dan tidak terawat.



Kami kemudian melangkahkan kaki dengan menyusuri pagar tembok yang mengelilingi penjara ini. Pagar itu sangat panjang dan luas sekali dengan keadaan yang tampak kusam. pada beberapa bagiannya terdapat semacam pos pengawas bagi petugas penjara. Pos penjaga di bagian atas pagar itu juga tampak rusak dan tidak terawat.



Untunglah pada dinding tembok itu pada sisi barat dan ujung utaranya tampak bersih walau sudah berubah warnanya. Dinding itu berhiaskan mural yang berwarna-warni tentang industri rokok dan tembakau' Mural itu sendiri dibuat oleh House Of Sampoerna yang lokasinya memang tak jauh dari penjara Kalisosok ini.



Penjara Kalisosok ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke 36 yaitu Herman Willem Daendels pada tanggal 1 September 1808 dengan membutuhkan biaya pembangunan 8000 Gulden.







Penjara Kalisosok ini dibangun pada tahun 1913 oleh kontraktor Hollandsche Beton Maatschapij, sebelumnya adalah kantor Geo Wehry & Co, salah satu perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia saat itu.



Ketika Tentara Sekutu mendarat di Surabaya, penjara Kalisosok ini juga menjadi saksi keberanian para pejuang di Surabaya.



Pada tanggal 26 Oktober 1965, pasukan Inggris di bawah pimpinan Kapten Shaw menyerbu Penjara Kalisosok untuk membebaskan seorang perwira Belanda yaitu Kapten Huijer. Peristiwa ini  kemudian dikenal sebagai  insiden Kapten Huijer.


Pada masa pemerintahan Orde baru, penjara Kalisosok ini juga menjadi hunian para tahanan politik bagi mereka yang terlibat dalam gerakan Partai Komunis Indonesia ( PKI ) dan ormas-ormas lainnya.




Banyak diantara mereka sebelum dibuang ke Pulau Buru atau Pulau Nusa Kambangan, sebelumnya ditahan dan disiksa di penjara tua ini.



Dengan berbagai kisah pilu para tahanan di penjara ini dan nuansa bangunan kunonya, tentu saja Penjara Kalisosok ini juga menyimpan kisah-kisah misteri dan menyeramkan ala Dunia Lain. Penjara Kalisosok ini sendiri ditutup pada tahun 2000 dan pindah ke lokasi yang baru.




Selasa, 25 Maret 2014

Mitos Larangan Memotret Di Kelenteng Dukuh Surabaya

Ada sebuah kelenteng yang tampak berbeda dengan kelenteng-kelenteng lainnya yang pernah saya kunjungi di berbagai kota. Kelenteng itu bernama Klenteng Hong Tiek Hian yang  merupakan klenteng tertua di Surabaya. 


Kelenteng ini juga bisa dikenal dengan nama Kelenteng Dukuh karena berada di Kampung Dukuh pada  kawasan bisnis pecinan Kembang Jepun Surabaya. 



Konon klenteng ini sudah ada sejak pasukan Tar-Tar menduduki Surabaya sebelum menyerang Kediri tahun 1293.



Kelenteng Dukuh memiliki bangunan dengan ornamen perlengkapan yang didominasi oleh warna coklat tua dan hitam. Ada nuansa gelap dan suram di sana. Hal ini tentu terbeda dengan bangunan dengan ornamen dan perlengkapan pada kelenteng-kelenteng lain yang umumnya bernuansa ceria dengan aneka warnanya yang terang dan mencolok.


Tak hanya itu saja perbedaannya. Di Kelenteng Dukuh ini juga ada mitos larangan untuk memotret. Entah sejak kapan adanya mitos itu. Konon, mitos itu menjelaskan bahwa siapapun yang memotret atau dipotret di kelenteng sana bisa berakibat pada berkurangnya umur mereka.



Saya dan rekan-rekan yang mengadakan wisata sejarah ke kelenteng Dukuh belum lama ini mengalami dan menjumpai beberapa wanita yang berusia paruh baya mendekati kami dan melarang untuk memotret kelenteng ini. 


Entah apa motivasi dan alasan mereka yang biasa duduk-duduk di bangku panjang dalam salah satu ruangan kelenteng.



Bahkan ada seorang wanita yang tampak mendatangi saya dengan emosi. Dengan marah-marah, dia memerintah saya agar segera menghapus foto dirinya dan temantemannya yang saya potret. Walau sebenarnya potret itu secara siluet dan tidak menunjukkan wajahnya sama sekali.



Bahkan wanita itu juga datang kembali dan marah-marah ketika saya memotret obyek yang lainnya seperti pentas wayang potehi, orang-orang yang membuat kertas doa, suasana di sekitar kelenteng dan sebagainya. 



Saya tahu dan menyadari bahwa memang ada aturan secara tidak tertulis untuk tidak masuk, mendekat dan memotret altar-altar utama dimana terdapat arca dewa-dewa sesembahan di dalam kelenteng karena bisa mengganggu kenyamanan umat yang sedang beribadah. Dan memang saya tidak melakukan hal itu di sana.



Tetapi yang saya herankan, kenapa wanita itu juga tetap emosi dan marah-marah walau saya tidak memotretnya lagi? Bahkan dia juga mengancam akan menempeleng saya jika memotret lagi dan  menakut-nakuti kalau saya dan siapapun yang memotret dalam kelenteng ini bisa segera mendapatkan musibah atau celaka yang mengancam nyawa.



Entah apa motivasi dan alasan mereka melakukan hal itu. Bukankan kunjungan saya dan rekan-rekan lainnya ke Kelenteng Dukuh juga untuk menyimak, mengagumi, merekam dan berbagi pada yang lainnya tentang sejarah dan keindahan yang ada di sana? Kenapa niat dan itikad baik itu bersambut dengan perasaan emosi dan marah-marah dari ulah beberapa wanita lanjut usia yang ada di sana?



Dari berdiskusi dengan sesama rekan, ada banyak yang berpendapat bahwa mungkin ulah mereka hanya bermotivasi pada uang saja. Mereka mungkin akan berbeda sikap jika diberi sejumlah uang. Karena logikanya, kalau memang dilarang memotret di kawasan Kelenteng Dukuh, tentu ada papan yang bertuliskan larangan untuk memotret di sana. Bukankah orang-orang lainnya yang ada di sana juga tak perduli dan membiarkan tentang hal itu jika memang pengunjung itu datang dengan baik , sopan dan menjaga sikap?




Logikanya pula jika larangan itu sudah ada dan berlaku sejak lama, tentu tak ada foto-foto tentang Kelenteng Dukuh yang beredar di dunia maya atau tampil dalam mesin pencarian seperti Google, Bing, Yahoo dan sebagainya.



Karena itu, semoga pihak-pihak yang terkait di Kelenteng Dukuh bisa memberikan perhatian dan teguran pada ulah mereka yang tak simpatik. Jangan sampai terjadi lagi ada pengunjung yang datang dari jauh ke kelenteng Dukuh ini dengan niat dan itikad baik, justru mendapatkan kemarahan dari ulah beberapa gelintir orang yan aneh, reseh dan sangat menjengkelkan seperti itu.