Tips Hamil

Senin, 25 November 2013

Gedung Cerutu Yang Indah Dan Unik Di Surabaya

Gedung Cerutu, begitulah bangunan kuno itu biasa disebut. Sesuai dengan namanya, gedung itu memiliki bagian berupa menara yang bentuknya seperti cerutu. Gedung ini merupakan salah satu bangunan kuno yang hingga saat ini masih tetap utuh dan terawat di antara bangunan kuno yang ada di sekitarnya.


Nuansa era kolonial Belanda sangat terasa pada bentuk dan arsitektur bangunan Gedung Cerutu yang memiliki warna putih dengan atap berwarna  merah ini. Letaknya berdampingan dengan Hotel Ibis atau di depan Gedung Internatio.








Entah sejak kapan bangunan itu dikenal dengan nama Gedung Cerutu karena selain ada yang menganggapnya dengan bentuk menara seperti cerutu, ada juga yang lainnya beranggapan bentuk menara itu seperti roket, peluru atau ujung bulpen ( ballpoint ).  Dengan ciri ornamen cerutu dan  lokasinya yang berada di tepi Jalan Rajawali  yang cukup padat di kawasan Jembatan Merah - Surabaya menjadikan sosok gedung ini mudah dikenali. 


Cukup menarik menyimak gedung yang dibangun sebagai kantor perusahaan gula  pada tahun 1916 oleh N.V. Maatsschappij Tot Exploitatie van Het Bureau Gebroders Knaud ini.Gedung ini memiliki bentuk simetris pada bagian depannya. 


Pintu masuk berbentuk lengkung setengah linkar di bagian atasnya yang diapit oleh dua lengkung yang lebih kecil dan pendek.


Di bagian bawah terdapat dua pasang jendela dengan ornamen lengkung di bagian atasnya dan jendela-jendela yang berbentuk kontak. Pagar besi yang berbentu ala jeruji penjara ada di depannya.


Yang menarik, menurut  informasi  pada lempeng tembaga yang terpasang di di depannya, gedung Cerutu ini pernah digunakan sebagai Kantor Said Oemar Bagil dan kantor Bank Bumi Daya. 

Gedung ini merupakan bangunan dengan arsitektur kolonial sebagai landmark kawasan kota lama dan pada tahun tahun 2009 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sesuai SK. Walikota Surabaya No. 188.45/004/402.1.04/1998 No unit 40.



Berada di sekitar kawasan Gedung Cerutu ini akan membawa kita seakan kembali ke masa lampau karena banyaknya bangunan kuno yang ada di sekitarnya.



Tak jauh dari gedung ini bisa dijumpai Gedung Singa yang juga berarsitektur klasik.Di sekitar gedung ini pula lokasi tewasnya Brigjen AWS. Mallaby, pimpinan tentara Inggris dan Sekutu dalam pertempuran melawan para pejuang di Surabaya. 



Dijual Tablet Smartfren New Andromax Tab 7.0 

Hadiah Lomba dari Vivanews. 

Kondisi 100% Baru, Lengkap dan Tersegel.

Harga Penawaran Rp 1,5 juta

Barang Langka - Stock Galeri Smartfren Sudah Kosong Lama

Harga Tablet Smartfren New Andromax Tab 8.0 Rp 2,3 juta

Kontak Agung - 0823 3388 7121

=====================================================================





 ====================



Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :



Tradisi Makan Camilan Dari Tanah Di Tuban

Tanah ternyata bisa dimakan dan menjadi semacam Camilan yang dikenal dengan nama Ampo dan sudah menjadi Tradisi secara turun-temurun. 

Di beberapa daerah lainnya di Jawa Timur, Jawa tengah, Jogjakarta dan lainnya Ampo masih bisa dijumpai. Salah satunya adalah di Kabupaten Tuban - Jawa Timur.

Tepatnya di Desa Trowulan Kecamatan Semanding. Sekitar 8 km arah selatan dari Pusat Kota Tuban atau 5 km dari Pasar Baru Tuban.

Di desa ini terdapat pembuat ampo yang hanya tersisa 3 wanita berusia lanjut saja yaitu Ramani (80), Darmini (70) dan Rasimah (55). Dari tiga wanita itupun hanya Darmini dan Rasimah saja yang sampai saat ini masih aktif membuat ampo. Sedangkan Ramani karena kondisi usia lanjutnya dan kesehatannya yang sering sakit-sakitan sejak tiga tahun yang lalu sudah tidak lagi membuat ampo.





 Dalam seminggu, kedua wanita yang masih aktif membuat ampo itu hanya membuat ampo 2-3 kali saja.Berbeda jauh dengan Masa Kejayaan ampo pada sekitar tahun 1980an dimana mereka bisa membuat ampo 5-6 kali dalam seminggu.


Cara membuat Ampo sangat Sederhana dan mudah sekali. Hanya saja Tanah yang digunakan sebagai bahan baku membuat ampo tidak bisa menggunakan tanah sembarangan. Tanah itu harus berjenis tanah liat yang bertekstur lembut dan bebas dari Pasir, kerikil atau Batu.


Dari tanah yang sudah terkumpul itu kemudian dibentuk menjadi semacam adonan berbentuk kotak atau bentuk tertentu lainnya dengan penambahan Air secukupnya agar adonan tanah menjadi kalis. Cirinya adonan tidak lengket pada Tangan.


Untuk membuat adonan kotak itu dengan menambahkan tanah sedikit demi sedikit dengan sesekali menumbuknya dengan alat semacam palu besar yang terbuat dari Kayu.

  
Setelah adonan berbentuk kotak siap, proses berikutnya tinggal mengikis atau menyerut tanah di bagian atas adonan itu sedikit demi sedikit dengan menggunakan bilah pisau bambu Hasil serutan tanah yang berbentuk seperti ‘ wafer stick/roll ‘ dengan panjang 6-8 cm itu lah yang disebut ampo yang kemudian dikumpulkan dan ditempatkan di semacam periuk dari Gerabahtanah liat untuk diasapi dengan pembakaran di tungku yang menggunakan kayu bakar.





Setelah diasapi beberapa lama dan ampo sudah matang dengan tanda ampo bisa dipatahkan, ampo pun diangkat dari tungku dan setelah didinginkan beberapa saat, Ampo itupun siap untuk disajikan dan disantap.

Ampo terasa hambar dengan sensasi asap karena memang terbuat dari tanah yang diasapi.Sejak jaman dahulu begitulah bentuk dan rasanya ampo. Melihat bentuk dan warna ampo yang seperti Cokelat, Ada gurauan yang mengatakan ampo adalah Cokelat Ala Jawa atau Cokelat Van Java.


 Biasanya Ampo itu mereka jual ke Pasar Baru Tuban dengan harga Rp 5000/kg. Pelanggan mereka adalah penjual batu kapur dan para penjual bunga setaman untuk keperluan ziarah dan sesajen. 
 
  
Dari penuturan langganannya di pasar, Darmini menngatakan bahwa ternyata konsumen yang membeli ampo justru banyak ibu yang sedang hamil. Ibu hamil itu ‘ ngidam ‘ yang cukup aneh yaitu ingin dibelikan dan memakan ampo sebagai camilan. Entah apa sebabnya dan kenapa ibu-ibu yang sedang hamil itu justru ngidam ingin makan ampo.



Ada ibu hamil yang ngidam Ampo dan memakannya.Setelah itu dia merasakan perutnya terasa dingin dan sejuk sekali seperti minum air yang keluar dari kendi tanah liat. Tanpa ada pengaruh buruk akibat makan ampo. Sedangkan penjual kembang untuk keperluan ziarah menjual ampo untuk keperluan sesajen. 


Karena pernah ada orang yang kesurupan saat membuat sesajen akibat dia lupa menyiapkan ampo di sesajennya. Saat ini tak ada generasi muda yang teratrik dan menggeluti untuk membuat ampo. Karena itu, kepunahan tradisi membuat ampo di Tuban ini hanya menunggu waktu saja.


Kelak, kisah tentang ampo di Tuban ini hanya bisa menjadi cerita nostalgia lintas generasi saja.

Misteri Tentang Makam Ronggolawe Di Tuban

Ada banyak kisah yang berkaitan dengan Kerajaan-kerajaan di Nusantara pada masa lampau . 

Salah satunya adalah kisah tentang Ronggolawe  ( Ranggalawe ) yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit





Kisah tentang Ronggolawe itu menarik untuk disimak karena banyak ahli sejarah  yang masih mempertanyakan tentang lokasi makam Ronggolawe yang sebenarnya.   


Nama Ronggolawe itu sendiri identik dengan daerah Tuban - Jawa Timur. Tak heran,jika daerah ini juga mempunyai julukan sebagai Bumi Ronggolawe yang seolah menjadi julukan kebanggaan bagi para warganya.

Terlepas tentang polemik kebenaran  lokasi makam Ronggolawe, di Tuban memang ada kawasan makam yang diyakini merupakan makam Ronggolawe. 


  
Makam itu dikenal sebagai Makam Ronggolawe yang berada di Kelurahan Sidomulyo, KecamatanTuban.  Sekitar 400 Meter dari kompleks Wisata Religi makam Sunan Bonang. 

Sedangkan kawasan makamnya oleh warga setempat juga disebut  sebagai Makam Kajongan.Saat berkunjung kesana, suasana tampak cukup sepi. Saya kemudian menghubungi juru kunci makam ini yang sayangnya   dia sedang bekerja.Dengan diantar oleh istrinya yang berusia lanjut , saya  diijinkan untuk masuk ke dalam makam Ronggolawe dan memotret makam dan  ruangan di dalamnya.

Makam Ronggolawe berada di dalam naungan sebuah cungkup yang merupakan bangunan baru. Tak tampak adanya jejak bangunan lama atau kuno disana. Yang ada hanyalah deretan makam dengan nisan kunonya. Nisan makam itu sendiri juga tampak sederhana tanpa banyak hiasan seperti nisan pada makam-makam kuno lainnya.

Makam Ronggolawe berada di bagian tengah dan diapit oleh makam para adipati Tuban lainnya.  Nama para adipati Tuban lainnya itu tercantum pada prasasti baru yang terdapat di depan pintu masuk cungkup makam.

Saya merasa heran dan penasaran ketika melihat dan mengetahui  sosok makam Ronggolawe itu karena tampak sederhana yang dihiasi dengan ornamen kayu berukir.Tentu ornamen kayu yang tampak mengkilap itu merupakan produk baru dan bukan merupakan peninggalan masa lampau.

Sebuah lampu  gantung berada di bagian atasnya dengan tirai atau Kelambu yang bewarna putih yang menyelubunginya. Tak tampak batu nisannya seperti nisan makam-makam kuno lainnya.     Di bagian pusaranya terdapat  dupa yang senantiasa menguarkan bau harumnya yang bernuansa mistis.


Jujur saja, rasa penasaran saya begitu berkecamuk dalam benak. Benarkah makam ini makam dari Ronggolawe, sosok yang legendaris itu? Terlepas dari ornamen-ornamen  baru yang melingkupinya saat ini, kenapa makam Ronggolawe itu tampak begitu sangat sederhana untuk sosok bangsawan sekelas Ronggolawe?  

Kenapa tak ada ornamen-ornamen bangunan lama semacam prasasti , batu penanda  dan simbol-simbol kebesaran lainnya  ibangun pada masa lampau khusus untuk mengenang dan menghormati sosok Ronggolawe ? Ah, entahlah. Mungkin mereka yang bergelut dengan ilmu sejarah yang lebih tahu tentang hal ini.

Dari penelusuran data di internet disebutkan bahwa Ranggalawe atau Rangga Lawe ( lahir: ? - wafat: 1295 ) adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit, namun meninggal sebagai pemberontak pertama dalam sejarah kerajaan ini.  

Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe menyebut Ranggalawe sebagai putra Arya Wiraraja bupati Songeneb (nama lama Sumenep). Ia sendiri bertempat tinggal di Tanjung, yang terletak di Pulau Madura sebelah barat.

Pada tahun 1292 Ranggalawe dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Tarik (di sebelah barat Tarik, Sidoarjo sekarang) menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit.   

Konon, nama Rangga Lawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya karena berkaitan dengan penyediaan 27 ekor kuda dari Sumbawa sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam perang melawan Jayakatwang  -raja Kadiri.

Ada  juga yang menjelaskan  arti Rangga berarti ksatria / pegawai kerajaan dan Lawemerupakan sinonim dari wenang, yang berarti "benang", atau dapat juga bermakna "kekuasaan" atau kemenangan. dan Ranggalawe kemudian diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memimpin pembukaan hutan tersebut. 

Penyerangan terhadap ibu kota Kadiri oleh gabungan pasukan Majapahit dan Mongol terjadi pada tahun 1293. Ranggalawe berada dalam pasukan yang menggempur benteng timur kota Kadiri. ia berhasil menewaskan pemimpin benteng tersebut yang bernama Sagara Winotan.


Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit. Menurut Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanya dalam perjuangan Ranggalawe diangkat sebagai bupati Tuban yang merupakan pelabuhan utama Jawa Timur saat itu.  
  
Prasasti Kudadu tahun 1294 yang memuat daftar nama para pejabat Majapahit pada awal berdirinya, ternyata tidak mencantumkan nama Ranggalawe. Yang ada ialah nama Arya Adikara dan Arya Wiraraja.   

Menurut Kitab Pararaton, Arya Adikara adalah nama lain Arya Wiraraja. Namun prasasti Kudadu menyebut dengan jelas bahwa keduanya adalah nama dua orang tokoh yang berbeda.   

Sejarawan Slamet Muljana mengidentifikasi Arya Adikara sebagai nama lain Ranggalawe. Dalam tradisi Jawa ada istilah nunggak semi, yaitu nama ayah kemudian dipakai anak. Jadi, nama Arya Adikara yang merupakan nama lain Arya Wiraraja, kemudian dipakai sebagai nama gelar Ranggalawe ketika dirinya diangkat sebagai pejabat Majapahit.
   

Dalam prasasti Kudadu, ayah dan anak tersebut sama-sama menjabat sebagai pasangguhan, yang keduanya masing-masing bergelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka danRakryan Mantri Dwipantara Arya Adikara.

Pararaton mengisahkan Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan Majapahit karena dihasut seorang pejabat licik bernama Mahapati. Kisah yang lebih panjang terdapat dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe.

Pemberontakan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam perjuangan daripada Nambi.

Keberadaan Makam Ronggolawe di Tuban menarik untuk dikunjungi , terutama bagi mereka yang suka dengan wisata religi dan spiritual.Sudah menjadi tradisi tahunan ketika memperingati Hari Jadi Tuban pada tgl 12 November , Bupati Tuban  yang sedang menjabat beserta jajaran pejabat lainnya selalu  berziarah ke makam Ronggolawe.