Senin, 20 Oktober 2014

Jejak Sejarah Di Makam Kuno Tjitrosoman - Tuban

Ada banyak makam yang kuno dan bersejarah di daerah Tuban - Jawa Timur. Salah satunya adalah Makam Tjitrosoman yang berada di Desa Bejagung , Kecamatan Semanding yang berjarak sekitar 5 km arah selatan dari pusat kota Tuban.



Ada yang menarik dengan makam ini karena merupakan kawasan pemakaman yang ekslusif dan bukan untuk umum. Sesuai dengan namanya, makam Tjitrosoman ini merupakan pemakaman khusus bagi mereka yang merupakan keturunan dari Adipati Tjitrosomo I, seorang ningrat dan bangsawan pada masa lampau.


Karena itu, bila ada warga setempat yang meninggal tetapi bukan merupakan keturunan dari Tjitrosoman , maka warga itu tidak bisa dimakamkan di Makam Tjitrosoman. Sebaliknya jika ada warga dari daerah yang sangat jauh tetapi ada keturunan dengan Tjitrosoman, maka dia berhak dimakamkan di makam Tjitrosoman ini bila sudah meninggal dunia.


Dalam catatan sejarah, Adipati Tjitrosomo I memimpin Jepara pada tahun 1745-1778. Makam beliau berada  di belakang Masjid An-Nur. Makam itu berada di dalam bangunan yang diapit oleh  makam dua garwa padmi (permaisuri). Kedua istrinya itu yaitu Putri Amangkurat I dan Putri Adipati Soejonopoero yang gugur dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin Jepara.

Dari kedua istri dan selir, Adipati Tjitrosomo I mempunyai 47 anak yang terdiri dari 14 putra dan 33 putri. Para putranya tersebar di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya dan banyak yang menjadi adipati ( pemimpin daerah ).

Diantaranya adalah keturunan Tjitrosoman yang menjadi Adipati di Tuban dan makamnya ada di Makam Tjitrosoman ini. Memasuki kawasan makam Tjitrosoman ini tampak sebuah bangunan yang berpagar dinding berwarna putih dan pintu gerbang yang berwarna hijau.


Bangunan itu tampak terkunci dan hanya dibuka pada saat tertentu dan jika ada tamu yang berkepentingan untuk memasukinya dengan seijin dari juru kunci. Setelah menemui Bapak Rovai sebagai juru kunci makam Tjitrosoman, saya diijinkan untuk masuk dan memotret ke dalam bangunan itu.

Di dalamnya saya menjumpai deretan makam yang dicat warna putih yang jumlahnya mungkin kurang dari  seratusan. Di bagian utara dengan dipisahkan oleh pagar besi, terdapat deretan makam kuno dengan bentuk dan ukuran yang lebih besar. Salah satu dari makam kuno itu berhiaskan penutup kepala ala raja-raja di Jawa.

Selain makam dari Adipati Tjitrosomo IX dan  di sekitarnya juga terdapat makam istri dan kerabatnya.


Yang menarik, di sekitar makam Tjitosoman ini ada beberapa pencari bunga Kamboja yang menjemur bunga-bunganya untuk dikeringkan. Pada waktu-waktu tertentu ada pengepul yang datang dan membeli bunga kamboja yang kering itu.


Selain itu di sana juga ada makam Adipati Tjitrosoma VII dan Adipati Tjitrosoma VIII yang juga berada di kawasan pemakaman ini. Tetapi entah kenapa, kedua makam itu tidak ditempatkan dalam satu lokasi yang sama karena  berada dalam pagar tembok dan gapura yang berbeda dengan jarak sekitar 100 meter.

Di bagian atas gapura itu terdapat prasasti dari batu marmer dengan tulisan bahasa Belanda dan dalam ejaan lama serta  ornamen yang berbentuk roda.

Sedangkan di bagian luar bangunan berpagar itu terdapat makam-makam keturunan Tjitrosoman lainnya baik yang sudah lama di makamkan atau yang baru saja meninggal dan dimakamkan.

Menurut Bapak Rovai, setiap tahunnya pada hari dan bulan tertentu di makam Tjitrosoman ini diadakan tradisi Sedekah Bumi atau Manganan yang diisi dengan kegiatan pengajian, istighotsah dan doa bersama. 

 View Video - Makam Sunan Bejagung Kidul

Makam Tjitrosoman ini lokasinya berseberangan dengan makam Sunan Bejagung Lor yang legendaris dan berjarak sekitar 400 meter dari makam Sunan Bejagung Kidul.




Keripik Gayam Yang Nikmat di Tuban

Agung - 0857 3396 5278 - 0823 3388 7121
        



www.jelajah-nesia.blogspot.com

Rabu, 15 Oktober 2014

Semaraknya Karnaval Budaya Hari Jadi Bojonegoro


Suasana tampak semarak pada pagi hingga sore hari  di Kota Bojonegoro - Jawa Timur, Minggu tgl 12 Oktober 2014. 


Ribuan warga tampak antusias dan memadati jalan-jalan utama di Kota Minyak itu untuk menyaksikan Karnaval Budaya yang diadakan untuk memperingati Hari Jadi Bojonegoro ke 337 Tahun.



Karnaval ini diberangkatkan dari kawasan sekitar Alun-alun kota Bojonegoro  dengan melalui jalan-jalan utama. 



Karnaval ini diikuti oleh berbagai pihak mulai dari pelajar, mahasiswa, instansi pemerintahan, komunitas, warga dan sebagainya. 


Tampak juga beberapa peserta dari daerah lainnya seperti Tuban, Kediri, Nganjuk dan Pasuruan.




Berbagai ide, tema dan kreatifitas disajikan oleh para peserta. Mulai dari yang berupa aneka kostum yang indah dan berwarna-warni, sejarah, tradisi dan budaya, hiburan hingga aksi teatrikal dan kontemporer.


Seakan tak mau kalah dengan aksi dan penampilan para gadis cantik dengan aneka kostum dan riasan wajahnya yang menarik, para banci ( Waria ) juga ikut tampil menunjukkan pesona keindahannya.


              View Video - Karnaval Budaya Bojonegoro 6


Tak kalah menariknya adalah aksi lucu peserta karnaval yang membawa dan mengenakan aneka perlengkapannya seperti dukun, penjual sayur, drum band ala kadarnya dan sebagainya.


Aksi konyol mereka itu tentu membuat suasana menjadi semarak dengan derai tawa para penonton. 




Keripik Gayam Yang Nikmat di Tuban

Agung - 0857 3396 5278 - 0823 3388 7121
        



www.jelajah-nesia.blogspot.com





Kamis, 09 Oktober 2014

Misteri Dua Makam Sunan Bejagung di Tuban

Ada yang menarik di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding - Tuban, Jawa Timur. Di daerah yang terletak sekitar 4 km arah selatan dari pusat kota Tuban ini terdapat beberapa makam kuno yang dikeramatkan oleh warga setempat dan sekitarnya.


Diantaranya adalah adanya makam kuno yang dikenal dengan nama makam Sunan Bejagung, aulia dan ulama besar yang menyebarkan agama Islam di daerah Semanding pada masa lampau.


Yang unik, di daerah Bejagung ternyata terdapat dua makam Sunan Bejagung yaitu Makam Sunan Bejagung Lor dan Makam Sunan Bejagung Kidul. Kedua makam ini berjarak sekitar 400 meter yang dipisahkan oleh jalan kampung.


Sesuai dengan namanya, Makam Sunan Bejagung Lor yang merupakan Makam Syekh Hasyim Asyari berada di bagian utara ( Lor ). Sedangkan makam Sunan Bejagung Kidul yang merupakan makam Syekh Hasyim Amaluddin berada di bagian selatan ( Kidul ).


Makam Sunan Bejagung Kidul berada dalam naungan bangunan cungkup di bawah pepohonan yang besar dan rindang seperti pohon jati, pulai, dan sebagainya. Makam ini juga dikenal dengan nama Makam Pangeran Penghulu ( Putra Prabu Hayam Wuruk ). Beliau merupakan murid sekaligus menantu dari Syekh Hasyim Asyari ( Sunan Bejagung Lor )




Berbeda dengan makam Sunan Bejagung Lor yang cukup banyak dikunjungi peziarah karena lokasinya yang berada tak jauh dari jalan raya, untuk makam Sunan Bejagung Kidul ini hanya didatangi oleh beberapa peziarah saja. Selain itu di sana juga tidak terdapat situs berupa sumur kuno.



Menurut Pak Mudri sebagai juru kunci makam , makam Sunan Bejagung Kidul ini banyak didatangi oleh peziarah dari daerah Bojonegoro. Kedatangan mereka sebagai bagian ikhtiar atau upaya untuk berbagai tujuan dalam hal usaha, pekerjaan, kesehatan , keturunan dan sebagainya.

Selain pepohonan yang besar dan rindang, di sekitar makam Sunan Bejagung Kidul ini terdapat tumpukan  batu bata kuno.




Keripik Gayam Yang Nikmat di Tuban

Agung - 0857 3396 5278 - 0823 3388 7121
        



www.jelajah-nesia.blogspot.com




Jumat, 03 Oktober 2014

Panorama Yang Indah Di Pantai Mangrove Center Tuban

Ada banyak kawasan pantai di daerah Tuban - Jawa Timur. Salah satunya adalah Pantai Mangrove Center yang berada di Mangrove Center Tuban di daerah Jenu, Tuban - Jawa Timur.



Sesuai dengan namanya, di sekitar pantai itu terdapat deretan pohon mangrove yang berupa pohon bakau, cemara, waru dan sebagainya. 



Selain itu juga terdapat kawasan penghijauan dan pembibitan aneka jenis tanaman.




Tak ada tiket masuk bagi pengunjung ke Mangrove Center Tuban Banyak wisatawan yang datang ke Pantai Mangrove Center Tuban karena suasananya yang rindang, asri dan sejuk dengan panorama alamnya yang cukup indah.  Di antara mereka ada yang sekedar menikmati suasana pantai, berkemah, outbound, aneka pelatihan dan sebagainya.


Mangrove Center Tuban dilengkapi berbagai fasilitas bagi pengunjung. Yang menarik, di sana juga ada sebuah kebun binatang mini dengan koleksi satwanya yang terdiri dari ular phyton, merak, monyet, kalkun, ayam mutiara, burung jalak dan lainnya.


Ombak dan arus laut di Pantai Mangrove Center Tuban cukup tenang karena bukan termasuk kawasan laut yang dalam. Karena itu, seperti halnya pantai-pantai lainnya di Tuban, pantai di sana tampak keruh dan berlumpur.


Sayang, keindahan Pantai Mangrove Center Tuban ini ternoda  dengan banyaknya sampah yang berserakan di bibir pantai dan area sekitarnya.





Keripik Gayam Yang Nikmat di Tuban

Agung - 0857 3396 5278 - 0823 3388 7121
        



www.jelajah-nesia.blogspot.com


Rabu, 01 Oktober 2014

Sesaji Kepala Sapi Dalam Sedekah Laut Nelayan di Tuban

Ada yang berbeda dengan suasana di Pantai Tuban - Jawa Timur pada hari Rabu tanggal 1 Oktober 2014. Suasana tampak semarak sejak pagi hingga sore hari. Selain adanya panggung musik di tepi pantai, warga yang datang ke sana juga antusias menyaksikan tradisi dan budaya tahunan yang dikenal dengan nama Sedekah Laut atau Larung Sesaji.



Kegiatan ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur warga sekitarnya yang umumnya berprofesi sebagai nelayan dan menggantungkan kehidupannya dari hasil laut. 



Sedekah Laut ini diawali dengan arak-arakan yang berjalan mengelilingi kawasan perkampungan Karangsari dan Kingking yang cukup sempit dan padat. Arak-arakan itu terdiri dari barongsai, sesaji kepala sapi, Bekakak ( miniatur perahu yang di dalamnya berisi sesaji ), gadis yang berpakaian seperti seorang putri dalam busana tradisional Jawa yang diiringi oleh para cenayangnya dan warga setempat.


 Yang menarik, dua barongsai yang ada dalam arak-arakan itu juga beraksi dengan atraktif ketika ada warga yang memberikan amplop-amplop berisi angpau. Arak-arakan kemudian berakhir di tepi Pantai Tuban sebagai pusat acara. Setelah diberi doa, sesaji kepala sapi dan Bekakak kemudian dibawa ke tepi pantai untuk digantung di sebuah tiang yang berupa batang pohon kelapa.

Menurut Sumiran, tokoh masyarakat, dipilihnya sapi sebagai hewan untuk sesajian itu karena sapi merupakan bentuk dan lambang kejayaan dan kerukunan. Sedekah laut itu sendiri dilakukan agar para nelayan memperoleh keberkahan dan rezeki yang melimpah jika sedang melaut. 


 
Sedangkan untuk Bekakaknya dibawa dengan menggunakan perahu tradisional untuk di larung ke laut lepas. 


Bekakak itu dilarung ke laut lepas sejauh sekitar 3 km dari kawasan pantai dengan kawalan banyak perahu dengan bendera-bendera yang cukup besar dan beraneka warna.


Yang menarik, beberapa saat setelah Bekakak itu diberi doa dan dilarung ke laut, para nelayan juga segera memandikan perahu-perahu dan awak perahunya dengan air laut dengan harapan bisa mendapatkan berkah dari tradisi sedekah laut dan larung sesaji itu. 


Setelah Bekakak dilarung, arak-arakan perahu kemudian kembali ke pantai yang dilanjutkan dengan hiburan musik. 




Keripik Gayam Yang Nikmat di Tuban

Agung - 0857 3396 5278 - 0823 3388 7121
        



www.jelajah-nesia.blogspot.com