Kamis, 17 April 2014

Jejak Sejarah Di Benteng Cakraningrat IV, Madura


Kawasan di tepi pantai yang berlokasi di Desa Tanjung Piring, Bangkalan - Madura itu sangat luas sekali. Sepintas tak ada yang istimewa di sana karena lokasinya yang seperti hutan dengan pepohonan yang besar dan rindang. Semak-belukar yang tumbuh merambat atau bersulur menutupi daerah itu.

 
Tetapi siapa sangka jika di kawasan itulah terdapat bangunan kuno yang bersejarah. Bangunan itu berbentuk benteng  yang dibangun pada masa lampau sebagai  salah satu pertahanan dalam menghadapi serangan musuh.



Benteng itu dikenal dengan nama Benteng Cakraningrat IV. Sesuai dengan namanya, benteng itu berkaitan dengan sejarah Cakraningrat IV, penguasa di Pulau Madura kala itu. 

 
Pihak kolonial Belanda melalui VOC saat itu tidak mau mengakui tuntutan Cakraningrat IV atas kekuasaan yang besar di sebagian wilayah Jawa Timur.

Pada tahun 1745, VOC menyatakan bahwa Cakraningrat IV diturunkan dari tahta dan akan diperlakukan sebagai pemberontak.



Setelah melakukan perundingan dengan Cakraningrat IV tetapi hasilnya sia-sia, akhirnya terjadilah peperangan antara VOC dengan pasukan dari Cakraningrat IV.


Akibat peperangan itu, pasukan Cakraningrat IV melemah dan Cakraningrat IV pun kemudian ditawan oleh VOC yang kemudian membawanya ke Batavia dan membuangnya ke Tanjung Harapan pada tahun 1746 hingga wafat pada tahun 1753.



Menelusuri jejak benteng itu membutuhkan stamina yang cukup prima karena medannya yang cukup menantang dengan menembus semak-belukar yang lebat. Selain juga karena suasananya yang bernuansa horor ala Dunia Lain.
 

Benteng-benteng itu ada yang dalam keadaan utuh dan ada juga yang tinggal puing-puingnya saja.Menurut Ady Setyawan, ST. dari komunitas Roode Brug Soerabaia, puing-puing kehancuran benteng itu mungkin karena serangan mortir yang dahsyat. 


Dan yang menarik, pada salah satu benteng di sana terdapat tulisan dalam huruf Kanji - Jepang yang artinya ' Jangan Menyalakan Api ".


Benteng-benteng itu sendiri terdiri dari beberapa bangunan Bastion dengan berbeda fungsi. ada yang berfungsi sebagai lokasi pengintaian dan pertahanan, tempat pembangkit listrik ( genset ), tempat penyimpanan senjata dan amunisi. 

 
Fungsi lainnya sebagai tempat pertahanan dan perlindungan, markas, barak prajurit, pengintaian dan docking alat angkutan laut dan ada juga yang masih belum diketahui fungsinya.


Saya merasa bersyukur bisa mengikuti kegiatan penelusuran sejarah bersama Roode Brug Soerabaia bersama komunitas-komunitas sejarah di Bangkalan itu belum lama ini dalam kegiatan bertajuk Plesiran Ke Poelaoe Garam. 




Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mengenan dan menghargai jejak sejarah bangsa ini yang terjadi pada masa lampau.




Keripik Gayam Yang Nikmat di Tuban

Agung - 0857 3396 5278 - 0823 3388 7121
        




www.jelajah-nesia.blogspot.com

.


Rabu, 16 April 2014

Suasana Menyeramkan di Air Terjun Banyu Langse, Tuban


Air terjun Banyu Langse adalah salah satu wisata alam di daerah Tuban – Jawa Timur. Wisata ini sangat menarik untuk dikunjungi dengan panorama alamnya yang cukup indah dan alami. 


Terlebih pada musim kemarau ketika arus air sungainya tidak begitu deras, banyak pengunjung dan warga yang mendekat, berenang dan berbasah-basah ria di air terjun itu.


Bahkan ada banyak juga pasangan kekasih yang melakukan foto pra pernikahan mereka di wisata ini.



Tetapi keadaannya menjadi berubah drastis saat musim penghujan. Tak banyak pengunjung yang datang ke sana. Suasananya juga sangat sepi sekali. Warga yang biasanya mencuci pakaian mereka atau warga yang membersihkan hewan ternak sapinya di sungai sekitar Banyu Langse juga tak tampak. 


Semua ini tentu karena arus sungai yang sangat deras dan berbahaya yang bisa menghanyutkan mereka bila memaksakan diri beraktifitas di sana.Ada hal yang berbeda dan terasa aneh saat kaki saya melangkahkan kaki memasuki kawasan Banyu Langse ini. Entah kenapa, nuansa seram dan horor ala Dunia Lain sangat terasa sekali.


Mungkin nuansa yang seram itu karena lingkungan sekitar air terjun ini.
Suasana sekitar yang tampak temaramdan rumpun bambu yang rimbun dengan bunyi derak batang-batang bambunya seakan menambah kesan menyeramkan itu. Belum lagi dengan lumut yang tumbuh di mana-mana yang menghadirkan suasana lembab.


Perlu kehatian-hatian tersendiri saat berada di sana karena licinnya tanah dan bebatuan tempat berpijak. Saya juga berpikir dua kali saat menaiki batu besar agar bisa mengabadikan panorama air terjun ini dari ketinggian.


Saya teringat, di batu besar inilah yang menjadi salah satu lokasi melompatnya anak-anak dan pengunjung sebelum menceburkan diri dan berenang di kolam air terjun itu.


Masih terbayang dalam benak saya tentang mudahnya para pengunjung saat melangkahkan dan memijakkan kaki di batu-batu besar  untuk berpindah-pindah lokasi berfoto atau berbasah ria di sana.


Berdiri di batu besar itu pun saya tidak berani berlama-lama. Karena dengan suasana yang cukup menyeramkan dan kerasnya gemuruh air terjun dan arus sungai itu, terasa sangat berbahaya bagi keselamatan diri jika terlalu lama berada di sana.


Tak hanya itu saja, ada mitos yang berkembang di warga setempat tentang legenda makhluk gaib berwujud sosok Kelabang Raksasa yang menampakkan dirinya pada waktu-waktu tertentu. 


Selain itu juga karena  banyaknya pengunjung yang kerasukan roh gaib saat pikirannya kosong dan melamun ketika berada di sana.


Setelah mengabadikan panorama air terjun Bany Langse ini secukupnya , saya pun segera bergegas meninggalkan wisata ini. Sebuah pengalaman wisata dan  sisi yang berbeda dari Air Terjun Banyu Langse pada musim penghujan ini.




Keripik Gayam Yang Nikmat di Tuban

Agung - 0857 3396 5278 - 0823 3388 7121
        




www.jelajah-nesia.blogspot.com




Selasa, 15 April 2014

Plesiran Ke Madura Bersama Roode Brug Soerabaia


Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenang dan menghargai sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada masa lampau. Salah satunya adalah dengan mengunjungi bangunan-bangunan yang kuno dan bersejarah.


Seperti halnya yang dilakukan oleh Roode Brug Soerabaia yang mengadakan kegiatan bertajuk Plesiran Ke Poelaoe Garam belum lama ini. 


Sesuai dengan namanya, komunitas pegiat sejarah dan perjuangan bangsa dari kota Surabaya ini mengadakan napak tilas ke tempat-tempat bersejarah yang ada di daerah Bangkalan - Madura.

 
Dengan menggunakan kendaraan sebuah bis, komunitas ini langsung menuju ke lokasi Benteng Cakraningrat yang berada di Desa Tanjung Piring - Bangkalan. 



Di sana ternyata sudah menunggu komunitas-komunitas bersejarah dari Bangkalan yaitu Komunitas Labhang Bhuta, Bangkalan Memory dan Tretan.com yang berada dibawah Yayasan Koena Madoera sebagai tuan rumah dan pemandu kegiatan ini di Bangkalan.



Setelah briefing singkat dan berdoa bersama, kegiatan penelusuran dan napak tilas pun segera dimulai menuju ke bangunan Benteng Cakraningrat.


 Lokasi medannya ternyata cukup ekstrem juga karena seolah berada di tengah hutan dengan pepohonan besar dan semak belukar.




Akar dan sulur tanaman yang merambat dan bergantungan menjadi teman yang wajib menyapa selama perjalanan itu. 
 

Pantas saja jika dalam kegiatan ini peserta diwajibkan  mengenakan sepatu dan lengan panjang untuk menghindari terkena duri, ulat , tawon dan sebagainya.


Jejak-jejak bangunan Benteng Cakraningrat IV itu pun kami jumpai. Ada yang bangunannya masih utuh, tetapi ada juga yang tinggal puing-puingnya saja. 


Beberapa bangunan itu tidak bisa kami dekati karena begitu lebatnya semak belukar di sekitarnya.Antar satu bangunan dengan bangunan lainnya terpisah cukup jauh. Bangunan-bangunan itu sendiri mempunyai fungsi yang berbeda.
 

Karena sudah lama rusak, terlantar dan tak berpenghuni, tentu saja ada terasa nuansa horor ala Dunia Lain pada bangunan-bangunan itu. Terlebih ketika berada di sebuah sumur tua yang dulu digunakan untuk mengubur mayat-mayat korban peperangan.



Walau terasa cukup melelahkan, tetapi perjalanan wisata sejarah itu terasa menyenangkan. Apalagi dilakukan secara berjalan bersama-sama dengan melewati sungai, sawah, ladang dan sebagainya. 


Dari kawasan Benteng Cakraningrat, setelah beristirahat sejenak, perjalanan sejarah kemudian berlanjut menuju ke bangunan Mercusuar Sembilangan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Benteng Cakraningrat IV.


Mercusuar ini cukup tinggi sehingga ada beberapa anggota Roode Brug Soerabaia yang tidak berani untuk menuju ke puncak mercu suar.
  

Sedangkan bagi mereka yang bernyali tinggi atau memaksakan diri dengan menahan tubuh yang terasa gemetaran, tentu momen di atas puncak mercu suar Sembilangan itu tak dilewatkan dengan berfoto dan bernarsis ria di sana.


Sebuah pengalaman perjalanan wisata sejarah yang mengesankan di Pulau Madura bersama Roode Brug Soerabaia dan komunitas-komunitas sebagai tuan rumahnya. Semoga kelak kegiatan ini bisa berlanjut ke situs-situs bersejarah lainnyua yang ada di Madura.




Keripik Gayam Yang Nikmat di Tuban

Agung - 0857 3396 5278 - 0823 3388 7121
        




www.jelajah-nesia.blogspot.com